Feeds:
Posts
Comments

Fathers Day

This year is the first fathers day celebration for my husband. So, our little girl, Nathania, would like to give her papa a special present. Here is the present, a poem :

A Little Girl Needs Daddy

A little girl needs Daddy
For many, many things:
Like holding her high off the ground
Where the sunlight sings!
Like being the deep music
That tells her all is right
When she awakens frantic with
The terrors of the night.

Like being the great mountain
That rises in her heart
And shows her how she might get home
When all else falls apart.

Like giving her the love
That is her sea and air,
So diving deep or soaring high
She’ll always find him there

Author : unknown

mandi

Seperti pada umumnya mereka yang mengharapkan kehadiran buah hati dalam rumah tangga mereka, aku selalu ber harap-harap cemas setiap bulannya. And how dissapointed I am when the result still negative. My husband always try to comfy me, Still another month to go, we keep trying:) that’s make me a little bit comfy.

On July, I was so excited looking forward for holiday in Indonesia. Sebenarnya bukan benar-benar liburan, karena suami kebetulan ada conference di Jakarta. Tapi akhirnya aku diputuskan untuk ikut serta. How excited I am. Saat itu sudah nggak terlalu mikir lagi mengenai kehamilan, pikirku saat itu, mudah-mudahan setelah liburan ini, bertemu dengan keluarga di Indonesia membuat aku lebih fresh dan siapa tahu lebih mudah untuk hamil. Amin.

Menjelang akhir July, tamu bulanan tak kunjung datang, tapi aku tak mau langsung test, suamiku bilang tes aja sekarang siapa tahu khan positif, nanti dululah jawabku, tunggu beberapa hari lagi. Aku jadi takut juga, takut kecewa kalo hasilnya negatif lagi. Tapi kupikir-kupikir kalo ketauan lebih cepat khan lebih baik, supaya aku bisa lebih hati-hati. Akhirnya, sore itu, 28 July, aku test, deg-degan juga menunggu hasilnya. Ooooo…Puji Tuhan ketika aku melihat tanda + muncul, aku langsung teriak-teriak memangil suamiku…positif Bang…positif, aku hamil!!!

Besoknya masih ga percaya, aku ambil test pack yang lain dan segera ngetest lagi, hasilnya masih positif, hari itu juga aku langsung bikin appointment dengan GP untuk confirm kehamilanku. Rasanya berbunga-bunga sekali, aku masih ingin merahasiakan kehamilan itu dari semua orang, karena masih terlalu muda pikirku. Namun suamiku, langsung angkat telpon dan memberitakan ke keluarga di tanah air. Mulai saat itu aku lebih berhati-hati dalam segala hal, mulai mengkonsumsi folic acid dan buah-buahan. Saat itu mulai timbul keragu-raguan untuk ikut pulang ke indonesia, karena katanya terlalu riskan mengingat usia kehamilan masih terlalu muda dan jarak antara Glasgow-Jakarta yang sangat jauh. Tiketpun sudah dipesan jauh-jauh hari. Setelah berkonsultasi dengan GP, ia bilang it’s OK, tetap konsumsi folic acidnya dan keep comfortable di pesawat. Wah senengnya aku, jadilah tanggal 15 Agustus itu kami pulang dan berlibur di Indonesia.Semoga kehamilan in berjalan lancar, sehat sampai saat melahirkan nanti.

Niat Bangettt…

Walaupun perut masih cekot-cekot, hari minggu kemarin niat banget pergi ke city center. Jalannya pelan-pelan, sampe diketawain suami karena sambil jalan gw megangin perut dan rada bungkuk kaya nenek-nenek. Cuaca cerah ceria siang itu. Rencananya aku mau tukerin baju longdress yang aku beli sebelum operasi, karena katanya harus pake longdress supaya perut nggak kena. Ternyata, pas sampe di rumah sakit, bukan longdress begitu yang dimaksud, sampe malu sama susternya, akhirnya gw diberi baju dobelan.

Nah, daripada baju itu nggak kepake, tapi udah telanjur kebeli mendingan ditukerin sama baju yang lain, yang kemungkinan dipakenya lebih sering:)

Setelah pilih sini-sana, nyobain sini-sana, ketemulah 1 baju, 1 kaos dan 1 celana, tiga boo??? yup, 3 macem baju itu seharga 1 baju yang mau ditukerin, khan lumayan banget yach, dapet banyak!

Shopping time belum selesai, gw masih ada celana biru satu lagi, yang aku pikir, mendingan dibalikin and get some refund, toh aku sudah dapet celana baru dari tukeran baju.

Selesai semua itu, lantas pergi ke Chung Ying, Asia grocery yang konon paling lengkap di Glasgow. Biasanya kalo pergi ke Chung Ying, siap-siap bawa tas ransel plus tas tambahan karena yang dibeli banyak dan berat-berat, ada kecap manis, sambal ABC..tuh khan berat-berat, soalnya juga belanjanya sekalian, jadi paling cuma 2 kali dalam sebulan kesana. Hari itu suami akhirnya bawa semua belanjaan, soalnya gw khan belum bisa bawa yang berat-berat.

Enaknya sekarang, kalo mau ke Chung Ying udah ada bus airport yang dari west end udah extended sampai ke buchanan station jadi tinggal jalan dikit, sampe deh.

Walaupun belum sembuh bener, tapi keinginan nglakuin macem-macem banyak banget, musti nahan emang. Sampai seminggu kemudian, luka hasil operasi sudah kering tapi tiba-tiba tanpa sebab, aku merasakan sakit yang luar biasa pada perut sampai pinggang belakang bawah terutama kalo take a deep breath, jalan dan duduk. Satu-satunya posisi yang paling comfortable adalah posisi tiduran dan kaki ditekuk. Sakitnya sendiri nggak bisa diperkirakan kapan datangnya, kadang-kdang di tengah melakukan satu kegiatan, tiba-tiba aja sakit. Hari itu juga aku coba dapat appointment dengan GP, tapi baru dua hari kemudian aku ketemu GP. Dari hasil pemeriksaan dokter bilang everything is fine, nothing to worried about bahkan dia juga tidak memberikan obat apapun. Okelah, mungkin wait and see aja, kalo belum sembuh juga aku akan balik lagi ke GP.

Syukurlah, dua hari kemudian sakit itu hilang dengan sendirinya. Aku juga tidak tahu apa penyebabnya. Tapi aku masih membatasi diri untuk tidak melakukan aktivitas yang berat-berat. Otomatis aktivitas yang berat, harus nunggu suami pulang dari kampus.

Dari hasil tes hysterosalpingogramku bulan lalu dokter mengatakan kemungkinan adanya endometriosis dan ia menyarankan aku menjalani Laparoskopi (LO). Operasi ini tujuannya untuk mengetahui apakah ada sumbatan pada tuba falopiku sekaligus memastikan ada tidaknya endometriosis. Akupun dibekali satu guiding booklet untuk general anestesi dan informasi mengenai LO.

Dua hari menjelang operasi hatiku dag dig dug tak karuan, karena ini merupakan pengalaman pertamaku menjalani operasi, ada perasaan takut dan ngeri namun aku pasrah:( Mencoba mencari tahu tentang prosedur yang akan dilakukan melalui buku, internet dan pengalaman orang lain yang mengalami hal yang sama membuat hatiku sedikit tentram karena aku memiliki bayangan mengenai apa yang dilakukan, tak lupa aku menelpon ibuku di tanah air, “Banyak berdoa dan belajar menjadi orang tua ya Din, Ibu berdoa dari sini,” kata ibuku.

Pra-Operasi

Aku dan suami datang dua puluh menit lebih awal dari jadwal yang ditentukan yaitu 12.40 siang dan langsung report ke reception di Day Surgery, Gartnavel Hospital. Bagian rumah sakit yang menangani operasi yang tidak perlu menginap di rumah sakit. Beberapa orang yang duduk di ruang tunggu, nampak tenang tak ada rasa cemas di wajah-wajah mereka bahkan ada satu dua orang yang datang sendiri, tak ada sanak saudara yang mengantar. Tepat pukul 12.45 namaku di panggil, dua orang perawat berbaju biru datang dan memperkenalkan dirinya, menjelaskan pada suamiku bahwa kemungkinan besar aku bisa dijemput kembali sekitar jam 6 sore. Namun suamiku memilih menungguiku di situ ketimbang harus pulang dan kembali lagi.

Aku dibawa ke suatu ruangan untuk mengecek tekanan darahku, menanyakan kondisi kesehatanku saat itu serta memakaikan gelang yang bertuliskan namaku dan nama dokterku. Setelah itu aku langsung berganti baju operasi dan menaruh tasku dalam loker. Ia memintaku untuk duduk dan menunggu giliran untuk dipanggil dokter. Sekitar tujuh orang pasien sudah menunggu di tempat itu sementara nampak di seberang ruangan beberapa perawat sibuk dengan pasien yang akan dan sudah menjalani operasi. Tak lama aku dipanggil masuk disuatu ruangan. Seorang dokter memperkenalkan dirinya kepadaku dan bertanya seolah mengujiku. Apa Anda tahu apa yang akan terjadi di ruangan operasi? Ya, jawabku, operasi laparoskopi, dok!. Anda tahu prosedurnya? Dokter mulai menjelaskan prosedur laparokopi itu, di bawah pusar akan dibuat suatu hole dan gas akan dimasukkan dan akan dibuat suatu hole yang lain untuk memasukkan tiny camera sehingga bisa mengetahui apakah ada blockage di saluran falopiku. Dia juga menanyakan kondisi kesehatanku, riwayat kesehatan dan kapan menstruasi terakhir. Persis seperti interview, dia tak lupa menanyakan kalo aku masih ada pertanyaan lain.

Selesai interview dengan Bu Dokter aku kembali menunggu diruangan tadi yang kini sudah bertambah dengan beberapa pasien. Wow, ternyata banyak juga yach orang yang mau operasi:) pikirku. Ini semakin mengurangi rasa nervous-ku. Tak lama duduk dan menikmati berita di TV, namaku dipanggil lagi, kali ini seorang perawat dari anestesi yang kembali menanyakan tentang riwayat kesehatan dan kapan terakhir aku makan dan minum juga ada tidaknya alergi. Sebelum menjalani operasi aku diharuskan puasa sejak jam 6 pagi itu alias 6 jam sebelum operasi. Ia pun menjelaskan proses anestesi yang akan dilakukan. Setelah semua itu selesai aku kembali duduk di ruangan tunggu dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Sekitar jam 2 lewat, seorang perawat memanggilku dan menuntunku naik ke salah satu bed, menutupiku dengan selimut hangat, mengambil sepatuku dan memasukkannya kedalam plastik besar bersama buku dan kunci locker yang aku bawa dan menaruh plastik itu dibawah tempat tidurku. Memasukkan kacamataku dalam amplop coklat kecil yang sudah bertuliskan namaku dan menutupi rambutku dengan cap. Tak lupa lagi-lagi ia menanyakan kapan terakhir aku makan dan minum, apakah aku mengenakan kuteks, make up atau perhiasan. Seusai ketentuan yang ada di guiding booklet, pasien yang akan menjalani general anestesi tidak diperbolehkan mengenakan perhiasan, kuteks dan make up. Adanya booklet tersebut sangat membantuku untuk mempersiapkan diri baik sebelum maupun sesudah operasi.

Tak lama datang seorang perawat lainnya, memperkenalkan diri, wah entah sudah berapa kenalanku bertambah hari itu :) Ia menanyakan namaku dan mencocokannya dengan gelang ditanganku tak lupa, lagi-lagi menanyakan kapan terakhir aku makan dan minum. Sebelumnya aku sempat berpikir bahwa aku akan masuk dalam ruang operasi dalam keadaan sudah dianestesi ternyata tidak. Perawat itu mendorong tempat tidurku melalui koridor dan masuk dalam ruang anestesi atau preparation room yang tepat berada di belakang ruang operasi. Dua anesthesiologist lainnya datang sambil memastikan bahwa aku siap untuk menjalani operasi. Jarum IV (intra-venous) dimasukkan dalam bagian belakang punggung tangan kananku. Tak lupa ia mencoba menenangkanku. Kemudian aku di dorong melewati pintu selanjutnya yang merupakan ruang operasi. Wow, ruangan yang terang dengan banyak orang sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Dan seorang dokter menyapaku! Hi juga jawabku, kemudian aku tak sadarkan diri lagi.

Pasca-Operasi

Samar-samar kudengar suara perawat memanggilku. ‘I’m fine, I’m flying,” kataku berat, masih sangat mengantuk. Sedikit-sedikit aku membuka mataku yang masih sangat berat dan mulai sadar kalo aku sudah ada diruangan dimana pertama kali aku naik ke atas tempat tidur. Perawat yang menyapaku itu lantas mengecek suhu badan dan tekanan darahku. Lalu menawarkan kalo aku ingin makan atau minum sesuatu. Yah, aku baru menyadari kalo kerongkonganku sangat kering. Aku minta air. Satu gelas air habis dalam satu tegukan karena memang aku sangat haus saat itu. Tak lama perawat itu datang lagi menanyakan apakah aku ingin sesuatu, tak lama ia kembali dengan segelas tes panas, toast dan satu botol air putih. Sambil memakan toastku pelan-pelan aku mulai sadar rasa nyeri di perutku, ada dua buah plaster disitu, satu di pusar dan satu lagi dibawahnya. Tak lama seorang perawat datang dan menanyakan kondisiku, ketika aku bilang rada nyeri dia menawarkan painkiller, tapi aku pikir aku masih bisa menahan rasa sakit itu, ia pun membawakan aku bantal hangat untuk mengompres perutku.

Akupun sudah mulai sadar dan memperhatikan sekelilingku, ruangan yang cukup besar itu dipenuhi dengan troley atau tempat tidur disekat dengan tirai yang mengelilinginya. Beberapa perawat mondar-mandir sibuk memperhatikan pasiennya. Seorang laki-laki setengah baya (aku tidak tahu apakah dia perawat atau bukan) sibuk membuka sprei dan bantal membersihkan tempat tidur yang baru saja ditinggalkan oleh pasiennya. Dengan hati-hati ia mengelap setiap detil bagian dari tempat tidur dengan cairan antiseptic kemudian mengganti dengan sprei, sarung bantal dan selimut yang baru untuk pasien selanjutnya tak lupa menaruh tas plastik besar untuk baju pasien di bawah troley.

Selagi aku menikmati toast dan secangkir teh hangat, seorang perawat datang dan menanyakan apakah barang-barangku masih ada di loker, kemudian ia mengambil kunci loker dari tas plastik dibawah tempat tidurku dan mengambilkan tasku, seraya menanyakan apakah aku memerlukan sesuatu. Tak lama dokter yang sama yang menginterviewku sebelum masuk ruang operasi berkeliling ke setiap pasien. Hingga sampailah giliranku, dia menjelaskan mengenai hasil operasiku, Puji Tuhan, hasilnya bagus, tak ditemukan blockage pada tuba falopiku.

Satu persatu pasien mulai meninggalkan ruangan itu, sementara aku sendiri bertanya-tanya jam berapa aku disuruh pulang yach, seorang perawat mendekatiku dan menjelaskan bahwa aku bisa meninggalkan ruangan itu kira-kira jam 5.20 yang berarti 15 menit lagi, jadi aku boleh berganti pakaian. Saat itulah aku merasakan perutku mual, perawat itu langsung mengambilkan aku waskom dari kertas karton supaya aku bisa muntah dan tissue pembersih wajah. Ketika aku ingin melipat baju operasiku si perawat kembali bilang, tak usah tinggalkan saja semuanya ditempat tidur. Akupun berjalan dan menunggu ditempat yang sama sebelum operasi. Aku memperhatikan dari jauh, si Bapak mulai membersihkan tempat tidur. Tak lama, suamiku dipanggil masuk untuk menjemputku dan perawat menjelaskan bahwa selama 24jam berikutnya aku tidak boleh melakukan kegiatan yang berat dan harus ditunggui. Memang peraturannya (ini juga ada di guiding booklet-nya) pasien yang di anestesi total harus dijemput dan tidak boleh naik bis untuk pulang. Jika tidak ada seorangpun yang menjemput, maka pasien harus tinggal dirumah sakit. Suamikupun menandatangani pernyataan sebagai orang yang responsible atas diriku selama 24 berikutnya.

Begitulah pengalamanku sehari dirumah sakit, aku bersyukur untuk pelayanan yang baik, perawat yang sangat helpful dan penjelasan yang sangat detil dari tenaga medis sangat membantuku mempersiapkan diri baik sebelum maupun sesudah operasi. Yang kurang adalah tidak adanya keluarga di dekat kami, hanya aku dan suami yang saling menguatkan satu sama lain. O iya, satu lagi, untuk operasi laparoskopi ini aku tidak perlu membayar karena semua biaya ditanggung oleh NHS (National Health Service) sama seperti tes hysterosalpingogram yang aku jalani beberapa bulan lalu akupun tidak dikenakan biaya sama sekali alias gratis.

Lima hari setelah operasi aku belum melakukan hal-hal yang berat seperti berolahraga, jalan cepat atau membawa yang berat-berat karena luka yang ada di pusar kadang masih terasa sakit terutama saat membungkuk. Namun aku berusaha meningkatkan level kegiatanku sampai benar-benar pulih. Aku hanya mengkonsumsi pain killer yang diberikan dokter. Dijadwalkan kira-kira seminggu lagi aku akan bertemu dengan dokter kandunganku. Wish me luck!:D

Well, it felt like yesterday was 2007 and 2008 just said hello to us. And it’s now already mid of year, the time runs very fast here when i realize my head full of different things to do.

I always feel so tired at night and wake up in the morning just with the same feel. I don’t want to get out of bed.

If I could stay another ten minutes in my bed…

I manage to more organized though it’s quite difficult.

Sometimes, I just sitting hours on my comp and doing nothing. Then, I considered to do more exercises and try some new activities will make me stay fit, fresh and more active.

Last week, with some of my friends, Sonia and Vladimira, we went to the bank of Loch Lomond, a beautiful lake in the outskirts of Glasgow surroundings by hills and forests.

At the beginning, I was quite surprised that we went there not to enjoy the cruise in Loch Lomond or just walking around. More than that, they assisted me to climbing the hill which is more than 3030 feet heights. Ooohh..I need to manage my fear of heights.

Leaving the Inveruglass car park and the main road, we followed the foothpath. follow the abvious footpath then my friend, Sonia said “Let’s climb the hill, so we can see the Lake behind!”

The hardest part when we couldn’t find the footpath anymore and all the way up just using my friends mind which is seems more experience. We left behind all the fabulous view of Loch Lomond and kept walking.

p1010049p10100161img_1720p1010028

img_1751img_1755

Older Posts »