Jika pengin hamil, segala cara pasti dilakukan. Cara yang instant memang tidak ada, yang dibutuhkan kesabaran dan pemeriksaan yang intensive. Pemeriksaan ini musti diakukan terhadap kedua pasangan selama program kehamilan, baik secara fisik maupun laboratorium.
Pada pihak istri biasanya untuk pertama kali akan dilakukan pemeriksaan fisik oleh si dokter dan kemudian baru dilakukan pemeriksaan laboratorium. Salah satu diantaranya yaitu hysterosalpingogram, caranya seperti pada pemeriksaan ginekologi dimana sebuah spekulum dimasukkan kedalam vagina. Setelah itu spesial ‘dye’ akan diinjeksikan kedalam uterus. ‘Dye’ tersebut akan terserap oleh x-ray dan nampak warna sebagai warna putih dalam gambar x-ray. Dari pemeriksaan yang berlangsung sekitar 15 menit ini akan diketahui ada tidaknya sumbatan pada saluran falopi. Hysterosalpingogram ini dilakukan 10 hari setelah hari pertama menstruasi. Dan dianjurkan untuk tidak melakukan intercouse setelah menstrusi bersih sampai pada saat tes dilakukan.
Pada pihak suami akan dilakukan pemeriksaan sperma di laboratorium. Sperma biasanya dikeluarkan melalui masturbasi atau dengan bantuan istri melalui senggama terputus. Namun cara kedua biasanya dihindari karena adanya kekhawatiran tercampurnya sperma dengan cairan vagina sehingga akan menimbulkan kekeliruan dalam pemeriksaan. Sperma yang telah dikeluarkan ditaruh dalam wadah yang steril.
Pemeriksaan sperma dalam laboratorium meliputi volume, jumlah dan struktur spema, gerakan sperma, ketebalan, keasaman dan kandungan gula dalam sperma. Volume sperma normal antara 1.5-5.0 mm per ejakulasi, sedangkan jumlah sperma normal bervariasi antara 20 sampai 150 juta sperma per mm. Paling sedikit 60% sperma memiliki bentuk dan gerakan normal. Sperma yang sudah dikeluarkan tidak boleh dibiarkan dalam udara terbuka karena sperma sangat sensitif terhadap perubahan suhu untuk itu dalam waktu 15-30 menit sejak dikeluarkan sperma harus diperiksa dibawah mikroskop. Sebaliknya jika dibiarkan dalam udara terbuka selama lebih dari 30 menit, maka sperma akan mati.
Pemeriksaan dibawah mikroskop dilakukan kemudian baru dilakukan penghitungan sperma. Caranya sperma dimasukkan dalam gelas ukur khusus, lalu melalui rumus tertentu dilakukan penghitungan. Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan sebanyak 2 kali dengan tenggang waktu 7 hari, untuk kemudian dianalisa. Masalahnya dalam pemeriksaan pertama sering ditemui pasien dinyatakan azoosperma (tidak adanya sperma dalam semen), tetapi dalam pemeriksaan berikutnya ternyata spermanya banyak. Hal ini bisa terjadi karena mungkin pada pemeriksaan pertama pasien mengalami stress sehingga spermanya tidak tempias. Di sisi lain pemeriksaan kedua adalah untuk memastikan pemeriksaan pertama.






