Dari hasil tes hysterosalpingogramku bulan lalu dokter mengatakan kemungkinan adanya endometriosis dan ia menyarankan aku menjalani Laparoskopi (LO). Operasi ini tujuannya untuk mengetahui apakah ada sumbatan pada tuba falopiku sekaligus memastikan ada tidaknya endometriosis. Akupun dibekali satu guiding booklet untuk general anestesi dan informasi mengenai LO.
Dua hari menjelang operasi hatiku dag dig dug tak karuan, karena ini merupakan pengalaman pertamaku menjalani operasi, ada perasaan takut dan ngeri namun aku pasrah:( Mencoba mencari tahu tentang prosedur yang akan dilakukan melalui buku, internet dan pengalaman orang lain yang mengalami hal yang sama membuat hatiku sedikit tentram karena aku memiliki bayangan mengenai apa yang dilakukan, tak lupa aku menelpon ibuku di tanah air, “Banyak berdoa dan belajar menjadi orang tua ya Din, Ibu berdoa dari sini,” kata ibuku.
Pra-Operasi
Aku dan suami datang dua puluh menit lebih awal dari jadwal yang ditentukan yaitu 12.40 siang dan langsung report ke reception di Day Surgery, Gartnavel Hospital. Bagian rumah sakit yang menangani operasi yang tidak perlu menginap di rumah sakit. Beberapa orang yang duduk di ruang tunggu, nampak tenang tak ada rasa cemas di wajah-wajah mereka bahkan ada satu dua orang yang datang sendiri, tak ada sanak saudara yang mengantar. Tepat pukul 12.45 namaku di panggil, dua orang perawat berbaju biru datang dan memperkenalkan dirinya, menjelaskan pada suamiku bahwa kemungkinan besar aku bisa dijemput kembali sekitar jam 6 sore. Namun suamiku memilih menungguiku di situ ketimbang harus pulang dan kembali lagi.
Aku dibawa ke suatu ruangan untuk mengecek tekanan darahku, menanyakan kondisi kesehatanku saat itu serta memakaikan gelang yang bertuliskan namaku dan nama dokterku. Setelah itu aku langsung berganti baju operasi dan menaruh tasku dalam loker. Ia memintaku untuk duduk dan menunggu giliran untuk dipanggil dokter. Sekitar tujuh orang pasien sudah menunggu di tempat itu sementara nampak di seberang ruangan beberapa perawat sibuk dengan pasien yang akan dan sudah menjalani operasi. Tak lama aku dipanggil masuk disuatu ruangan. Seorang dokter memperkenalkan dirinya kepadaku dan bertanya seolah mengujiku. Apa Anda tahu apa yang akan terjadi di ruangan operasi? Ya, jawabku, operasi laparoskopi, dok!. Anda tahu prosedurnya? Dokter mulai menjelaskan prosedur laparokopi itu, di bawah pusar akan dibuat suatu hole dan gas akan dimasukkan dan akan dibuat suatu hole yang lain untuk memasukkan tiny camera sehingga bisa mengetahui apakah ada blockage di saluran falopiku. Dia juga menanyakan kondisi kesehatanku, riwayat kesehatan dan kapan menstruasi terakhir. Persis seperti interview, dia tak lupa menanyakan kalo aku masih ada pertanyaan lain.
Selesai interview dengan Bu Dokter aku kembali menunggu diruangan tadi yang kini sudah bertambah dengan beberapa pasien. Wow, ternyata banyak juga yach orang yang mau operasi:) pikirku. Ini semakin mengurangi rasa nervous-ku. Tak lama duduk dan menikmati berita di TV, namaku dipanggil lagi, kali ini seorang perawat dari anestesi yang kembali menanyakan tentang riwayat kesehatan dan kapan terakhir aku makan dan minum juga ada tidaknya alergi. Sebelum menjalani operasi aku diharuskan puasa sejak jam 6 pagi itu alias 6 jam sebelum operasi. Ia pun menjelaskan proses anestesi yang akan dilakukan. Setelah semua itu selesai aku kembali duduk di ruangan tunggu dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Sekitar jam 2 lewat, seorang perawat memanggilku dan menuntunku naik ke salah satu bed, menutupiku dengan selimut hangat, mengambil sepatuku dan memasukkannya kedalam plastik besar bersama buku dan kunci locker yang aku bawa dan menaruh plastik itu dibawah tempat tidurku. Memasukkan kacamataku dalam amplop coklat kecil yang sudah bertuliskan namaku dan menutupi rambutku dengan cap. Tak lupa lagi-lagi ia menanyakan kapan terakhir aku makan dan minum, apakah aku mengenakan kuteks, make up atau perhiasan. Seusai ketentuan yang ada di guiding booklet, pasien yang akan menjalani general anestesi tidak diperbolehkan mengenakan perhiasan, kuteks dan make up. Adanya booklet tersebut sangat membantuku untuk mempersiapkan diri baik sebelum maupun sesudah operasi.
Tak lama datang seorang perawat lainnya, memperkenalkan diri, wah entah sudah berapa kenalanku bertambah hari itu
Ia menanyakan namaku dan mencocokannya dengan gelang ditanganku tak lupa, lagi-lagi menanyakan kapan terakhir aku makan dan minum. Sebelumnya aku sempat berpikir bahwa aku akan masuk dalam ruang operasi dalam keadaan sudah dianestesi ternyata tidak. Perawat itu mendorong tempat tidurku melalui koridor dan masuk dalam ruang anestesi atau preparation room yang tepat berada di belakang ruang operasi. Dua anesthesiologist lainnya datang sambil memastikan bahwa aku siap untuk menjalani operasi. Jarum IV (intra-venous) dimasukkan dalam bagian belakang punggung tangan kananku. Tak lupa ia mencoba menenangkanku. Kemudian aku di dorong melewati pintu selanjutnya yang merupakan ruang operasi. Wow, ruangan yang terang dengan banyak orang sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Dan seorang dokter menyapaku! Hi juga jawabku, kemudian aku tak sadarkan diri lagi.
Pasca-Operasi
Samar-samar kudengar suara perawat memanggilku. ‘I’m fine, I’m flying,” kataku berat, masih sangat mengantuk. Sedikit-sedikit aku membuka mataku yang masih sangat berat dan mulai sadar kalo aku sudah ada diruangan dimana pertama kali aku naik ke atas tempat tidur. Perawat yang menyapaku itu lantas mengecek suhu badan dan tekanan darahku. Lalu menawarkan kalo aku ingin makan atau minum sesuatu. Yah, aku baru menyadari kalo kerongkonganku sangat kering. Aku minta air. Satu gelas air habis dalam satu tegukan karena memang aku sangat haus saat itu. Tak lama perawat itu datang lagi menanyakan apakah aku ingin sesuatu, tak lama ia kembali dengan segelas tes panas, toast dan satu botol air putih. Sambil memakan toastku pelan-pelan aku mulai sadar rasa nyeri di perutku, ada dua buah plaster disitu, satu di pusar dan satu lagi dibawahnya. Tak lama seorang perawat datang dan menanyakan kondisiku, ketika aku bilang rada nyeri dia menawarkan painkiller, tapi aku pikir aku masih bisa menahan rasa sakit itu, ia pun membawakan aku bantal hangat untuk mengompres perutku.
Akupun sudah mulai sadar dan memperhatikan sekelilingku, ruangan yang cukup besar itu dipenuhi dengan troley atau tempat tidur disekat dengan tirai yang mengelilinginya. Beberapa perawat mondar-mandir sibuk memperhatikan pasiennya. Seorang laki-laki setengah baya (aku tidak tahu apakah dia perawat atau bukan) sibuk membuka sprei dan bantal membersihkan tempat tidur yang baru saja ditinggalkan oleh pasiennya. Dengan hati-hati ia mengelap setiap detil bagian dari tempat tidur dengan cairan antiseptic kemudian mengganti dengan sprei, sarung bantal dan selimut yang baru untuk pasien selanjutnya tak lupa menaruh tas plastik besar untuk baju pasien di bawah troley.
Selagi aku menikmati toast dan secangkir teh hangat, seorang perawat datang dan menanyakan apakah barang-barangku masih ada di loker, kemudian ia mengambil kunci loker dari tas plastik dibawah tempat tidurku dan mengambilkan tasku, seraya menanyakan apakah aku memerlukan sesuatu. Tak lama dokter yang sama yang menginterviewku sebelum masuk ruang operasi berkeliling ke setiap pasien. Hingga sampailah giliranku, dia menjelaskan mengenai hasil operasiku, Puji Tuhan, hasilnya bagus, tak ditemukan blockage pada tuba falopiku.
Satu persatu pasien mulai meninggalkan ruangan itu, sementara aku sendiri bertanya-tanya jam berapa aku disuruh pulang yach, seorang perawat mendekatiku dan menjelaskan bahwa aku bisa meninggalkan ruangan itu kira-kira jam 5.20 yang berarti 15 menit lagi, jadi aku boleh berganti pakaian. Saat itulah aku merasakan perutku mual, perawat itu langsung mengambilkan aku waskom dari kertas karton supaya aku bisa muntah dan tissue pembersih wajah. Ketika aku ingin melipat baju operasiku si perawat kembali bilang, tak usah tinggalkan saja semuanya ditempat tidur. Akupun berjalan dan menunggu ditempat yang sama sebelum operasi. Aku memperhatikan dari jauh, si Bapak mulai membersihkan tempat tidur. Tak lama, suamiku dipanggil masuk untuk menjemputku dan perawat menjelaskan bahwa selama 24jam berikutnya aku tidak boleh melakukan kegiatan yang berat dan harus ditunggui. Memang peraturannya (ini juga ada di guiding booklet-nya) pasien yang di anestesi total harus dijemput dan tidak boleh naik bis untuk pulang. Jika tidak ada seorangpun yang menjemput, maka pasien harus tinggal dirumah sakit. Suamikupun menandatangani pernyataan sebagai orang yang responsible atas diriku selama 24 berikutnya.
Begitulah pengalamanku sehari dirumah sakit, aku bersyukur untuk pelayanan yang baik, perawat yang sangat helpful dan penjelasan yang sangat detil dari tenaga medis sangat membantuku mempersiapkan diri baik sebelum maupun sesudah operasi. Yang kurang adalah tidak adanya keluarga di dekat kami, hanya aku dan suami yang saling menguatkan satu sama lain. O iya, satu lagi, untuk operasi laparoskopi ini aku tidak perlu membayar karena semua biaya ditanggung oleh NHS (National Health Service) sama seperti tes hysterosalpingogram yang aku jalani beberapa bulan lalu akupun tidak dikenakan biaya sama sekali alias gratis.
Lima hari setelah operasi aku belum melakukan hal-hal yang berat seperti berolahraga, jalan cepat atau membawa yang berat-berat karena luka yang ada di pusar kadang masih terasa sakit terutama saat membungkuk. Namun aku berusaha meningkatkan level kegiatanku sampai benar-benar pulih. Aku hanya mengkonsumsi pain killer yang diberikan dokter. Dijadwalkan kira-kira seminggu lagi aku akan bertemu dengan dokter kandunganku. Wish me luck!:D






